Kepada Kamu yang Masih Aku Cinta
Kepada Kamu yang Masih Aku Cinta
Aku adalah pembaca setia dari setiap gerak-gerikmu, namun aku jugalah penulis yang paling pengecut karena tak pernah berani mencantumkan namaku di akhir baris cintaku padamu. Aku memilih untuk tetap menjadi anonim dalam hidupmu, memuja setiap jengkal kebaikanmu dari balik tirai sunyi yang kubangun dengan rapi.
Mencintaimu dalam diam adalah sebuah seni menata rindu agar tak tampak seperti luka. Ia adalah keputusan untuk tetap menjadi bayang-bayang di sisimu, memastikan kamu baik-baik saja tanpa pernah menuntut ruang di hatimu. Aku belajar bahwa ada kebahagiaan yang ganjil saat melihatmu tersenyum, meski alasan di balik lengkung bibirmu itu bukanlah aku.
Ada semacam kesucian dalam rahasia ini. Aku tak perlu takut akan penolakan, juga tak perlu khawatir akan kehilangan, sebab kamu tak pernah benar-benar kumiliki. Kamu adalah puisi yang kunikmati sendiri di tengah malam, melodi yang kudengar berulang kali tanpa perlu berbagi frekuensi. Aku mencintaimu dalam jarak yang kuciptakan sendiri, sebuah garis batas yang kubangun agar kedekatan kita saat ini tidak rusak oleh pengakuan yang barangkali tak kau harapkan.
Kepada kamu yang masih aku cinta, biarlah rasa ini tetap menjadi rahasia antara aku, waktu, dan Tuhan. Aku cukup puas dengan menjadi saksi atas setiap langkahmu dan menjadi orang yang paling tulus mendoakan kebahagiaanmu dari kejauhan. Bagiku, mencintaimu tidak harus berarti memilikimu; terkadang, mencintai adalah tentang kerelaan untuk menyimpan rasa ini selamanya dalam sebuah peti sunyi yang kusebut sebagai pengabdian paling tulus.
Sebab dalam diam, aku bisa memilikimu sepenuhnya tanpa takut kehilanganmu sama sekali.