Metropolitan Masa Lalu: Majapahit

Selama berabad-abad, narasi mengenai Kerajaan Majapahit (1293–1527 M) didominasi oleh teks-teks kuno seperti Nagarakretagama dan Pararaton. Bagi sebagian orang, kisah imperium maritim yang menyatukan Nusantara di bawah sumpah Gajah Mada kerap dianggap sebagai glorifikasi masa lalu atau mitos belaka. Namun, rangkaian ekskavasi intensif oleh para arkeolog Indonesia—khususnya Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur—telah membalikkan keraguan tersebut. Lewat sekop dan kuas arkeologi, kemegahan Majapahit kini menjelma menjadi bukti fisik yang tidak terbantahkan.
Awal Mula Kota Raja: Dari Hutan Tarik Menuju Metropolitan
Secara historis, Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya pada tahun 1293 M setelah runtuhnya Kerajaan Singhasari. Berawal dari pembukaan Hutan Tarik, wilayah pusat kekuasaan ini segera berkembang pesat. Melalui penelitian Indonesian Field School Archaeology (IFSA), luas ibu kota kuno Trowulan diestimasi mencapai 10 x 11 kilometer, menjadikannya salah satu kota metropolitan terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-14.
Konfirmasi fisik mengenai batas kota kuno ini semakin benderang lewat penemuan makro empat sudut yoni pembatas di wilayah Trowulan. Berbeda dengan kerajaan-kerajaan Jawa kuno sebelumnya yang berpusat pada candi batu, Majapahit membangun peradabannya di atas jutaan struktur bata merah—sebuah karakteristik arsitektur unik yang kini terus digali dari bawah tanah Jawa Timur.
Tiga Penemuan Terkini yang Mengubah Peta Sejarah Majapahit
Ekskavasi arkeologi terbaru tidak hanya menemukan benda kuno tunggal, melainkan kompleksitas tata kota peninggalan era keemasan Raja Hayam Wuruk dan Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi.
1. Benteng Raksasa Puri Bhre Wengker di Situs Kumitir
Salah satu lompatan terbesar dalam arkeologi Majapahit adalah penemuan di Situs Kumitir (Mojokerto). Tim arkeolog berhasil menyingkap struktur dinding pembatas atau benteng setebal hampir 2 meter dengan panjang ratusan meter. Berdasarkan toponim dan kecocokan naskah kuno, situs ini diidentifikasi sebagai pesanggrahan kuno milik Bhre Wengker, paman dari Raja Hayam Wuruk.
Penemuan benteng bata masif ini memperjelas sistem pertahanan dan tata zonasi internal di dalam wilayah Kota Raja Majapahit.
2. Pilar Megah dan Pagar Keliling di Situs Bhre Kahuripan (Klinterejo)
Melalui operasi penyelamatan arkeologis yang dinamis, struktur penting kembali terungkap di Situs Bhre Kahuripan / Yoni Klinterejo. Tim arkeolog berhasil membongkar aspal jalan desa untuk menyelamatkan sisa-sisa pilar tembok kuno dan pagar keliling yang terpendam.
Kompleks yang menggunakan batu umpak magmatis kokoh ini diduga kuat sebagai area peribadatan suci sekaligus tempat petilasan elit kerajaan era awal Majapahit.
3. Jaringan Air Canggih di Situs Sumberbeji
Kemajuan teknologi Majapahit paling terlihat pada manajemen airnya. Penemuan Situs Sumberbeji di Jombang menyingkap sebuah petirtaan suci dengan sistem pengairan bawah tanah yang sangat presisi. Dikombinasikan dengan waduk raksasa serta jaringan kanal Trowulan, temuan ini membuktikan bahwa Majapahit memiliki sistem hidrologi buatan yang maju untuk mendukung kebutuhan sanitasi, pertanian, sekaligus pengendalian banjir di pemukiman yang padat.
Perbandingan Narasi: Teks Kuno vs Realitas Arkeologi
Penemuan lapangan secara konsisten memvalidasi sekaligus melengkapi apa yang selama ini tertulis di dalam serat pujangga masa lalu:
| Aspek Sejarah | Deskripsi dalam Kitab Nagarakretagama | Temuan Nyata Arkeologi Terkini |
|---|---|---|
| Pusat Istana | Dikelilingi tembok bata tebal dan tinggi, memiliki pintu gerbang megah. | Ditemukannya benteng panjang di Situs Kumitir dan pilar pagar di Klinterejo. |
| Kepadatan Penduduk | Kota metropolitan yang ramai dengan rumah-rumah beralas lantai (umpak). | Penemuan berlapis di Desa Beloh, menyisakan perkakas harian, uang kepeng, dan perunggu. |
| Tata Kelola Air | Ibu kota yang memiliki kolam-kolam besar dan saluran air yang indah. | Ekskavasi kanal komunal Trowulan dan sistem kanal bawah tanah Situs Sumberbeji. |
Mengapa Kota Megah Ini Sempat "Menghilang"?
Banyak yang bertanya mengapa kota sebesar Majapahit bisa terkubur sedalam 2 hingga 3 meter di bawah tanah Jawa Timur. Melalui analisis sedimentasi tanah pada lokasi ekskavasi, arkeolog menyimpulkan bahwa selain karena keruntuhan politik akibat perang saudara (perang Paregreg) dan pergeseran kekuasaan maritim ke pesisir Islam, ibu kota Majapahit juga mengalami bencana alam berulang.
Lumpur vulkanik dan banjir bandang dari sungai-sungai purba di sekitar Gunung Kelud dan Welirang secara bertahap menimbun pemukiman bata merah tersebut selama ratusan tahun, membekukannya dalam ruang waktu hingga akhirnya digali kembali oleh para arkeolog modern.
Kesimpulan
Sejarah Majapahit kini bukan lagi sekadar romantisasi masa lalu yang tertulis di atas daun lontar kering. Setiap pecahan keramik Dinasti Yuan, barisan fondasi benteng Kumitir, hingga pilar kuno yang menyembul dari bawah jalan desa di Klinterejo adalah saksi bisu. Mereka berbicara seragam: bahwa di tanah Jawa ini, pernah berdiri sebuah peradaban metropolitan yang sangat maju, terorganisasi, dan memiliki teknologi yang melampaui zamannya.
Tugas generasi sekarang, lewat ilmu arkeologi, adalah terus merawat dan menyusun kembali kepingan-kepingan kejayaan tersebut.
Daftar Referensi
- Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur. (2020–2024). Laporan Berkala Ekskavasi Penyelamatan Situs Kumitir, Mojokerto. Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI.
- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) & BPK Jawa Timur. (2024). Analisis Kebencanaan dan Sedimentasi Geologi Purba di Kawasan Cagar Budaya Nasional Trowulan.
- Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslitarkan). (2020). Penelitian Arkeologi Terpadu Indonesia (PATI) IV: Menyingkap Sisi Timur Ibu Kota Majapahit.
- Mpu Prapanca. (1365 M). Kakawin Nagarakretagama. (Terjemahan: Slamet Muljana, 2006. Tafsir Sejarah Nagarakretagama. Yogyakarta: LKiS.)
- Direktorat Jenderal Kebudayaan. (2024). Direktori Resmi Majapahit: Sebaran Titik Cagar Budaya Kawasan Trowulan. Diakses dari direktorimajapahit.id
- Balai Arkeologi Yogyakarta. Bunga Rampai Majapahit. Diakses dari direktorimajapahit.id
ARTIKEL TERKAIT
Alexander The Great: Ambisi, Strategi, dan Sisi Gelap Sang Penakluk
Bagaimana seorang pemuda Makedonia menaklukkan hampir seluruh dunia yang dikenal orang Yunani kala itu.
Evolusi Imajinasi: Perjalanan Panjang Homo Sapiens
Bagaimana imajinasi kolektif Homo sapiens menjadi alasan kelangsungan spesies kita dan melahirkan konsep besar peradaban.