Overthinking Adalah Ilusi Control
Overthinking Adalah Ilusi Control
Pernahkah kamu merasa OVT???? memutar ulang skenario "seandainya" atau mencemaskan masa depan yang bahkan belum terjadi? Kita sering menyebutnya sebagai bentuk kehati-hatian. Padahal, secara psikologis, itu adalah overthinking, sebuah upaya otak untuk mengejar sesuatu yang semu: ilusi kontrol.
Jebakan "Thinking vs. Doing"
Banyak dari kita terjebak dalam kebiasaan ini karena otak kita membenci ketidakpastian. Ketidakpastian dianggap sebagai ancaman (threat). Untuk meredam rasa takut itu, kita mulai berpikir berlebihan. Kita merasa bahwa dengan memikirkan sebuah masalah dari sejuta sudut pandang, kita sedang "bekerja" menyelesaikannya. Padahal, ada perbedaan besar antara analisis yang solutif dan ruminasi (memutar pikiran negatif terus-menerus). Menurut penelitian dalam jurnal PMC (PubMed Central) tahun 2025, ruminasi justru menyebabkan kelelahan pada sirkuit kontrol kognitif di otak. Bukannya dapat solusi, kita malah makin kehilangan fokus.
Memahami "Illusion of Control"
Konsep utama yang melandasi fenomena ini adalah "Illusion of Control", sebuah istilah yang dipopulerkan oleh psikolog Ellen Langer dalam jurnal klasiknya, The Illusion of Control (1975). Langer menjelaskan bahwa manusia punya kecenderungan untuk percaya bahwa mereka bisa memengaruhi hasil dari kejadian yang sebenarnya di luar kendali mereka (seperti nasib, reaksi orang lain, atau masa depan). Saat kita overthinking, kita sedang mencoba "menyetir" kenyataan lewat pikiran. Padahal, seperti kata Langer:
"The illusion of control is the tendency for people to overestimate their ability to influence events." (Ilusi kontrol adalah kecenderungan orang untuk melebih-lebihkan kemampuan mereka dalam memengaruhi peristiwa.)
Sederhananya: Kamu merasa kalau kamu memikirkannya cukup keras, kamu bisa mencegah hal buruk terjadi. Nyatanya? Kamu hanya sedang lelah mental di tempat yang sama.
Keluar dari Lingkaran Setan
Menerima bahwa kita tidak punya kendali penuh atas segalanya adalah langkah awal menuju kewarasan. Kita punya kendali atas persiapan, tapi kita tidak punya kendali atas hasil akhir. Psikolog dari UGM juga menekankan bahwa kunci mengatasi overthinking adalah dengan membedakan mana yang bisa kita ubah dan mana yang harus kita terima. Fokuslah pada actionable steps—hal-hal kecil yang bisa kamu lakukan detik ini juga.
Kesimpulan
Overthinking hanyalah mekanisme pertahanan diri yang gagal. Ia memberi kita perasaan palsu tentang kendali, padahal ia justru merampas waktu dan energi kita untuk benar-benar bertindak. Hidup tidak terjadi di dalam kepalamu, tapi di dunia nyata. Jadi, lain kali otakmu mulai berisik, ingatkan dirimu: "Berpikir lebih keras tidak akan mengubah apa yang tidak bisa saya kendalikan." Tarik napas, tutup skenario fiktif di kepalamu, dan mulailah melangkah.
Referensi Utama:
- Langer, E. J. (1975). The Illusion of Control. Journal of Personality and Social Psychology.
- Research on Rumination and Cognitive Control (PMC, 2025).
- Psikologi UGM: Edukasi Mengenai Manajemen Overthinking.