People Come and Go

People Come and Go
Kita semua pasti punya sosok yang dulu kita pikir bakal ada selamanya—mulai dari teman sebangku sekolah, rekan kerja yang sangat klik. Tapi kenyataannya? Sekarang mereka cuma jadi penonton di stories kita, atau bahkan sudah saling asing. Faktanya, people come and go. Tapi kenapa itu terjadi? Dan bagaimana sudut pandang sains melihat "kehilangan" ini?
1. Relevansi Kontekstual (Social Exchange Theory)
Secara sosiologis, banyak hubungan kita bersifat kontekstual. Kita dekat dengan seseorang karena kita berbagi konteks yang sama: satu kantor, satu hobi, atau satu keresahan yang sama. Menurut Social Exchange Theory (George Homans), hubungan bertahan selama ada "pertukaran" nilai yang seimbang (dukungan emosional, informasi, atau kesamaan tujuan). Ketika kamu pindah kerja atau minatmu berubah, konteks itu hilang. Bukan karena kalian jahat, tapi karena fondasi interaksinya memang sudah tidak ada. They came for a reason, and they go when the reason is gone.
2. Pertumbuhan Personal yang Tidak Sinkron
Psikolog Carl Rogers pernah membahas tentang Personal Growth. Masalahnya, setiap orang tumbuh dengan kecepatan yang berbeda. Ada saatnya kamu ingin lari kencang mengejar ambisi, sementara temanmu lebih memilih untuk santai. Ketidakcocokan ritme ini menciptakan jarak. Secara saintifik, ini disebut sebagai Cognitive Dissonance—rasa tidak nyaman ketika nilai-nilai kita sudah tidak sejalan lagi dengan orang lama. Daripada terus bergesekan, otak kita secara alami memilih untuk menjauh demi menjaga kedamaian mental.
3. Batas Kapasitas Otak (Dunbar’s Number)
Ini sisi biologisnya: Manusia punya batasan fisik untuk menjaga hubungan berkualitas. Antropolog Robin Dunbar mengemukakan bahwa manusia rata-benar hanya bisa mengelola sekitar 150 hubungan sosial yang stabil dalam satu waktu. Dari 150 itu, hanya sekitar 5 orang yang masuk kategori inner circle. Artinya, agar ada orang baru yang masuk (misalnya pasangan baru atau rekan bisnis baru), secara otomatis harus ada orang lama yang tergeser ke lingkaran luar. It's just mental logistics.
4. Melepaskan sebagai Bentuk Kedewasaan
Menerima bahwa people come and go adalah kunci dari Emotional Intelligence. Dalam jurnal Psychology Today, disebutkan bahwa kemampuan untuk melakukan letting go tanpa rasa pahit adalah tanda kesehatan mental yang baik. Alih-alih bertanya "Kenapa dia pergi?", lebih baik bertanya "Apa yang sudah saya pelajari selama dia ada?". Setiap orang yang mampir sebenarnya adalah "guru" untuk fase hidupmu saat itu.
Kesimpulan
People come and go bukan tanda bahwa kamu gagal dalam membina hubungan. Itu adalah tanda bahwa kamu dan mereka sedang bertumbuh. Beberapa orang hadir sebagai bab utuh dalam bukumu, sementara yang lain cuma sekadar cameo atau catatan kaki. Hargai kehadiran mereka saat masih ada, tapi jangan paksa mereka tinggal saat masanya sudah habis. Karena pada akhirnya, satu-satunya orang yang pasti akan menemanimu dari awal sampai akhir cerita adalah dirimu sendiri.
Referensi Utama:
- Homans, G. C. (1958). Social Behavior as Exchange.
- Dunbar, R. I. M. (1992). Neocortex size as a constraint on group size in primates.
- Rogers, C. R. (1961). On Becoming a Person.